koran wong dermayu asli

Indramayu Post

Rabu, 10 Juni 2009

Pupuk Organik dan tanam Padi Pada Polybag..

Dengan menggunakan pupuk organik M-Bio yang di ditemukan Prof. Dr. Rudi Priyadi kita bisa menanam padi di polybag. Bagi rekan-rekan yang punya pengalaman atau yang sudah mempraktekkannya, saya berharap Anda mau berbagi informasi, mudah-mudahan bermanfaat bagi saya dan yang lainnya.

Proses Panjang, Temukan Pupuk M-Bio

Pembuatan pupuk organik dengan mengaplikasikan teknologi "polybag", ditemukan Prof. Dr. Rudi Priyadi, sejak 1996 lalu. Temuan itu melalui proses panjang, mulai dari uji lab hingga uji lapangan beberapa kali.

Bahkan, Prof. Rudi mesti terbang ke Thailand untuk mendiskusikan temuan ini dengan para pakar internasional dalam bidang pertanian organik. Penerapannya, memanfaatkan bahan organik yang bisa dijadikan pupuk bagi pertumbuhan tanaman.

Menurut guru besar bidang pertanian ini, pembuatannya sedikit berbeda dengan pembuatan kompos yang biasanya memakan waktu dua bulan. Pupuk ini hanya membutuhkan waktu seminggu. Caranya, hanya membuat pupuk organik dengan cara fermentasi (porasi) dengan aplikasi teknologi "polybag". Porasi ini, dibuat dari sampah, jerami, kotoran hewan, dan hijau-hijauan daun. Semua bahan difermentasi oleh mikroba, mikroorganisme tertentu, dalam hal ini digunakan mikroba dari kultur "polybag" selama seminggu. Mikroba yang terdapat dalam "polybag", yaitu Lactobacillus sp, selubizing phosphate bacteria, yeast, dan azosprillium.

Mikroba itu, mampu memfermentasikan bahan organik dalam waktu cepat dan menghasilkan senyawa organik, seperti protein, gula, asam laktat, asam amino, alkohol, dan vitamin. Contoh produk terkenal yang dihasilkan proses semacam itu, seperti dalam makanan yang difermentasikan, yaitu tauco dari kedelai, saus kedelai, dan lainnya. Porasi yang dihasilkan bisa padat dan juga cair.

Padat, contohnya dedaunan dikumpulkan, lalu diberi cairan "polybag". Setelah itu, diolah atau dibolak-balik. Selama seminggu, dedaunan itu akan menjadi pupuk yang bisa menyuburkan tanah dan tumbuhan.

Selain itu, dalam bentuk cair adalah dedaunan hijau, dimasukkan dalam air dalam jumlah banyak. Misalkan, ditabur "polybag" dan diaduk-aduk. Dalam waktu seminggu, cairan itu akan menjadi pupuk untuk disemprotkan.

Saat Indonesia terus mengalami krisis pangan seperti sekarang ini, maka Unsil memberikan harapan bagi pencerahan pertanian. Persoalannya, apakah pemerintah punya political will memandirikan rakyatnya? (Undang S./"PR")***

Pupuk M-Bio Unsil Cemerlang

DEKAN Fak. Pertanian Unsil Tasikmalaya, Dr. Ida Hodiyah, menunjukkan tanaman padi dalam "polybag". Tanaman itu, menggunakan pupuk organik dengan aplikasi M-Bio. Padi ditanam satu biji per "polybag" dan mampu beranak hingga 147 anak sehingga terlihat subur dan sehat. Teknologi ini, diharapkan bisa meningkatkan produksi pertanian serta bertanam padi tidak harus di sawah.* UNDANG SUDRAJAT/"PR"

Puluhan petani kentang, di dataran tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jateng, Sabtu (9/2) lalu, mengundang para pejabat dari Universitas Siliwangi (Unsil), Tasikmalaya. Mereka yang diundang, antara lain Rektor Prof. H. Nu’man Soemantri, dan Dekan Fakultas Peternakan Dr. Ida Hodiyah. Acaranya yaitu syukuran petani kentang Dieng, yang dipelopori Bambang, petani setempat.

Mereka menggelar acara syukuran karena telah berhasil meningkatkan produksi kentangnya, dari semula 26 ton/hektare, secara bertahap dalam tiga tahun terakhir, menjadi 52 ton/hektare. Lonjakan hasil panen kentang ini membawa berkah buat petani setempat karena mendongkrak penghasilan mereka. Selain itu, petani secara perlahan telah melepaskan ketergantungannya terhadap pupuk kimia dan bahan kimia lain, yang digunakan untuk semprot hama kentang.

Dua keuntungan yang diraih petani, hasil panen meningkat dan biaya produksi bisa ditekan karena lepas dari bahan-bahan kimia yang cukup mahal, bisa mencapai Rp 20 juta/hektare. Biaya itu berkurang menjadi hanya Rp 6 juta/hektare untuk membeli insektisida botani.

Lalu, kenapa dan hubungannya apa petani Dieng mengundang para pejabat dari Unsil Tasikmalaya? Karena peningkatan produksi sekaligus lepasnya petani Dieng dari pupuk kimia merupakan buah dari penerapan hasil karya ilmiah dari dosen Unsil Tasikmalaya. Petani Dieng telah menggunakan teknologi M-Bio. Maksud teknologi itu adalah pupuk organik hasil fermentasi (porasi) dengan aplikasi teknologi M-Bio. Porasi ini dibuat dari bahan-bahan organik yang segar atau belum matang, seperti jerami, kotoran hewan, limbah organik, hijauan, sampah, dan sebagainya, dengan cara difermentasikan oleh mikroba atau mikroorganisme tertentu (dalam hal ini digunakan mikroba dari kultur M-Bio-red.) selama satu minggu.

Contohnya, yaitu tumpukan jerami diberi campuran M-Bio setelah itu diolah atau diaduk. Dalam waktu seminggu, jerami itu telah berfungsi atau merupakan pupuk yang memiliki manfaat cukup besar yaitu untuk menyuburkan tanah serta menyehatkan tanaman/pertumbuhan dan hasil tanam. Penggunaan pupuk organik dengan cara fermentasi (porasi) dengan teknologi M-Bio telah dikembangkan oleh petani Dieng, selama tiga tahun terakhir.

Awalnya, Bambang, petani setempat, mencoba mengaplikasikan pembuatan pupuk organik yang dicampur M-Bio ini. Langkah Bambang ternyata membuahkan sukses sehingga diikuti petani lainnya. Karena dirasakan sukses, petani melangsungkan syukuran dengan mengundang pihak-pihak terkait, khususnya dari Unsil. "Kami sangat bersyukur karena karya ilmiah dari Unsil telah berhasil diterima petani. Seperti petani kentang di Dieng," kata Rektor Unsil Prof. Nu’man Soemantri, Senin (11/2).

Pembuatan pupuk organik dengan memanfaatkan teknologi M-Bio ini, tidak hanya sukses di Dieng. Namun, juga digunakan petani karet di daerah transmigrasi, Blitan, Sumatera Selatan (Palembang). Di daerah ini, tanaman karet yang sudah tua dan tidak berproduksi diberi pupuk hasil karya Unsil kemudian kembali menjadi "perawan" sehingga muncul lagi getahnya. Oleh karena itu, petani di daerah itu, kembali tersenyum karena bisa "menyadap" kembali getah karet.

"Di Sumatera, hasil kami juga telah digunakan di perkebunan sawit dan dinilai mampu meningkatkan produksi," kata Prof. Dr. Rudi Priyadi, Pembantu Rektor I Unsil, yang juga penemu teknologi M-Bio ini. Selain di Sumatra, pupuk ini diterapkan untuk pemupukan pohon apel di Batu, Malang, tanaman padi di Cianjur, tanaman jati di Sukabumi, dan beberapa tempat lainnya. Di Kab. Tasikmalaya sendiri, M-Bio dikembangkan untuk pemupukan tanaman padi yang tanam satu biji.

Kendati telah sukses di beberapa tempat, gaung pembuatan pupuk organik dengan sistem fermentasi ini masih belum begitu besar. Baru, di awal tahun 2008, aplikasi teknologi M-Bio cukup menyentak karena justru Malaysia yang secara serius meliriknya. Menurut Dekan Fakultas Pertanian Unsil, Dr. Ida Hodiyah, 26 Januari lalu, tim yang mengembangkan M-Biodiundang Universitas Teknologi Malaysia (UTM). Selain Ida Hodiyah, yang datang yaitu dosen Fakultas Pertanian, Iskandar Mamoen, yang telah lama bersama Rudi Priyadi, melakukan pengembangan teknologi M-Bio. Di UTM itu, mereka diminta melakukan presentasi atas hasil temuan tersebut. Sambutannya cukup antusias, bahkan tiga hari kemudian, dari UTM datang ke Unsil Tasikmalaya untuk melihat contoh penggunaan teknologi tersebut. Setelah UTM puas dengan karya ini, mereka menginginkan MoU antara Unsil dan UTM dalam waktu dekat. Salah satunya, UTM ingin mengembangkan teknologi tersebut di Johor, Malaysia.

"Teknologi ini akan digunakan untuk penanganan sampah di Malaysia. Baik sampah cair maupun padat. Sampah itu nantinya dijadikan pupuk organik yang difermentasi dengan M-Bio. Hasilnya, akan digunakan untuk pupuk karet dan lainnya," kata Iskandar, peneliti teknologi M-Bio ini.

Bagi Iskandar, tawaran dari Malaysia itu disambut dengan baik karena tawaran tersebut merupakan pengakuan cukup besar terhadap ilmuwan Unsil. Mereka siap membantu mengatasi sampah dengan menjadikan pupuk organik yang difermentasi dengan M-Bio.

Diundang SBY

Kini, para peneliti ini juga akan diundang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Cikeas. Mereka diminta tim ekonomi/pertanian SBY mempresentasikan teknologi temuan mereka. Diharapkan, penemuan ini mampu mengatasi masalah penurunan produksi pertanian. "Saya bersama Pak Iskandar sedang menyiapkan bahan-bahannya. Kabarnya, kami diminta presentasi pertengahan bulan ini," kata Ida.

Langkah ini, menurut Iskandar, diharapkan mampu membuka jalan bagi kiprah Unsil dalam pembangunan sektor pertanian. Ia optimistis, M-Bio akan memperkuat ketahanan pangan di Indonesia. Sebagai contoh, padi yang menggunakan cara ini menghasilkan panen mencapai 9 ton/hektare atau naik 100 persen. Saat digunakan memupuk cabai dan mentimun hasilnya juga melimpah. Bahkan, mereka mengembangkan padi dengan ditanam di polybag atau ember bekas. Caranya, yaitu timbunan tanah 70 persen, lalu dimasukkan pupuk organik 30 persennya. Setelah itu, pupuk organik dicampur M-Bio hingga akhirnya media tanah itu menjadi subur. Tanah tersebut untuk waktu tertentu disiram menggunakan pupuk cair, yang juga difermentasikan dengan M-Bio.

"Artinya, untuk pengembangan padi tidak harus punya sawah, warga di kota atau di desa, bisa menanam padi dengan menggunakan pot, atau polybag. Hasilnya, setiap satu polybag dipanen rata-rata 3 ons gabah. Kalau satu keluarga punya 100 polybag, tidak perlu lagi beli beras," ujar Ida.

Ia berharap, kalau projek ini sukses di Malaysia dan pemerintah RI juga mau mengembangkannya, sektor pertanian akan kembali bergairah serta produksi meningkat. Petani tidak harus membeli pupuk kimia dengan harga mahal karena mereka bisa memanfaatkan jerami hasil panen.

Unsil sendiri kini sudah memproduksi M-Bio yang bisa dibeli masyarakat. Satu ton sampah hanya membutuhkan satu liter M-Bio untuk bahan fermentasi. Harga satu liter M-Bio rata-rata Rp 30.000,00. Persoalannya, apakah pemerintah dan rakyat mau atau tidak berubah dari ketergantungan terhadap pupuk kimia. Kalau mau, peluang serta harapan memajukan dunia pertanian semakin cemerlang, dan ide ini datang dari Unsil Tasikmalaya ini. (Undang Sudrajat/"PR")***
di sadur dari Hermawan.blogspot.com

0 komentar:

Poskan Komentar

KOMENTAR

JATIBARANG INDRAMAYU | To Blogger by Jatibarang Blogger | Entries (RSS) and Comments (RSS).